Senin , 23 Oktober 2017
UPDATE INFO

Juknis Teknologi Padi HAZTON

Dalam upaya pencapaian produksi padi, selain didukung oleh pendekatan Perluasan Areal Tanam (PAT) dan atau
Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP) melalui gerakan penerapan jajar legowo, dipandang perlu berbagai terobosan-terobosan peningkatan produksi, antara lain cara bertanam padi dengan menggunakan bibit padat (20-30 bibit) per lubang tanam yang dikenal dengan
Teknologi Hazton

Teknologi Hazton tersebut dirintis dan telah diterapkan di beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat dan atau provinsi/kabupaten lainnya di Indonesia. Teknologi Hazton adalah cara bertanam padi dengan menggunakan bibit tua 25 – 30 hari setelah semai dengan jumlah bibit padat yaitu 20 – 30 batang per lubang tanam. Komponen
yang lain kurang lebih sama dengan Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi (PTT) yang direkomendasikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Teknologi ini ditemukan di Kalimantan Barat pada tahun 2012, dengan berbagai tahap pengujian di lapangan ternyata Teknologi Hazton mampu mengangkat produktivitas padi di Kalimantan Barat. Sebelum petani menggunakan Teknologi Hazton produktivitas padi hanya diperoleh
sebanyak 3,1 ton Gabah Kering Giling (GKG) per hektar, itupun sudah sangat tinggi dan sudah menggunakan paket teknologi yang lengkap seperti benih, pupuk organik dan pupuk anorganik sesuai anjuran. Setelah para petani mengenal Teknologi Hazton potensi produktivitas bisa meningkat hingga 8 – 16 ton Gabah Kering Panen
(GKP) atau 6,88 – 13,76 ton GKG per hektar.
 Sedangkan hasil uji coba Teknologi Hazton di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi berkisar antara 4 – 9 ton/ha. Teknologi Hazton ini merupakan teknologi yang sangat sederhana,
mudah diaplikasikan di lapangan dan tidak merubah teknik budidaya padi di tingkat petani selama ini yang semula petani hanya menggunakan bibit padi 2 – 3 batang per lubang tanam dengan Teknologi Hazton maka petani menanam bibit dengan 20 – 30 batang per lubang tanamnya. Beberapa kelebihan Teknologi Hazton setelah dikembangkan di lapangan adalah: 1). Produktivitas lebih tinggi, 2). Mudah dalam penanaman, 3). Sedikit bahkan tidak ada penyulaman, 4). Sedikit bahkan tidak ada penyiangan, 5). Lebih cepat panen (2 minggu) dari pada sistem biasa, 6). Gabah lebih bernas dan rendahnya bulir hampa/gabuk, 7). Relatif tahan terhadap serangan hama (keong
mas, orong-orong), drainase sulit, dan problem keracunan besi, 8). Prosentase beras kepala tinggi (beras
broken rendah), 9). Daya adaptasi di lapangan relatif tinggi, dan 10). Lebih efisien dalam penggunaan pupuk anorganik. Sedangkan kelemahan Teknologi Hazton adalah: 1). Keperluan benih lebih tinggi dari metode biasa dan 2). Menggunakan tempat pesemaian lebih luas. Untuk itu dalam rangka penerapan teknologi tersebut secara lebih luas, direncanakan akan dilakukan penerapan jajar legowo dengan teknologi hazton tersebut di 24 (dua puluh empat) Provinsi pada 75 Kabupaten/Kota. Agar upaya percepatan penerapan teknologi tersebut dapat tercapai, maka perlu disusun Petunjuk Teknis Budidaya Padi Teknologi Hazton, sebagai salah satu acuan umum bagi semua pihak yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan tersebut di lapangan

Detail  penjelasan tentang semua ini dapat di download di link dibawah ini

Link Downlod Klik Disini⇒  PETUNJUK TEKNIS PADI TEKNOLOGI HAZTON

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*